myidaayu.com

Beri Aku Cerita yang Tak Biasa; Mengangkat Budaya Bangsa Melalui Cerpen

Posting Komentar
Beri Aku Cerita yang Tak Biasa

Assalamu’alaikum…

Haloo Sobat Readers! Udah lama ni aku ga sharing tentang event menarik yang aku ikuti. Rindu rasanya berbagi cerita disini. Alhamdulillah, beruntung sekali Jumat, 7 Oktober 2022 kemarin aku berkesempatan untuk mengikuti sebuah event yang di selenggarakan oleh IIDN bersama Elang Nuswantara.

Sobat Readers pasti sudah tidak asing ya dengan IIDN? Yups, komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) adalah komunitas perempuan penulis yang terdiri dari banyak genre, yang memiliki Visi memajukan perempuan Indonesia melalui dunia menulis. IIDN sudah berdiri sejak tahun 2010. Didirikan di Bandung oleh Ibu Indira Mastuti, IIDN bertujuan menjadi wadah bagi para penulis perempuan di Indonesia. Kini IIDN memiliki 21ribu member yang tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa di luar Indonesia.

Nah, Kemudian mengenai Elang Nuswantara adalah sebuah komunitas penulis pencinta budaya dan alam Indonesia yang beranggotakan para pejuang literasi Nuswantara dari Indonesia timur sampai barat. Berlatar belakang keberagaman yang menyatukan para Elang Nuswantara adalah semangat untuk nguri-nguri budaya dan mencintai Nuswantara, menyampaikan pesan-pesan leluhur dengan cara kekinian.

Oke, kembali kepada bahasan kita tentang event keren bertajuk “Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa” ini di buka oleh Mbak Novarty selaku Moderator yang menjabarkan susunan acara serta narasumber yang akan hadir.


Webinar “Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa”

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki beragam kekayaan budaya, tradisi maupun kuliner, namun modernisasi seolah menutup keberagaman budaya bangsa sehingga banyak generasi muda yang tidak mengenali kekayaan budaya bangsanya. Oleh karena itu, melalui event ini IIDN ingin mengangkat kembali keindahan budaya dan tradisi Indonesia.

event


Menjadi narasumber untuk acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam ini adalah Mbak Widyanti Yuliandari yang akan menjabarkan tentang materi Fiksi Versus Non Fiksi Serta Ibu Kirana Kejora yang akan mengulik Kisi-Kisi Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa.

Selain diisi dengan kedua materi dari para narasumber hebat ini, ada juga sesi sharing yang akan diisi oleh salah seorang penulis buku "Beri Aku cerita Yang Tak Biasa”. Kemudian dilanjutkan dengan hiburan yang akan dihadirkan oleh Elang Biru serta pembagian hadiah dan doorprize.

Pembukaan acara dilanjutkan dengan sesi doa bersama dan menyanyikan lagu kebangsaan, yup, menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama, terbayang bukan betapa acara ini menggetarkan jiwa dan memantik rasa cinta para peserta akan Negara Indonesia sejak dari awal dibuka.

Fiksi VS Non Fiksi Oleh Mbak Widyanti Yuliandari

Materi pertama yaitu Fiksi VS Non Fiksi disampaikan oleh Mbak Widyanti Yuliandari, atau yang lebih akrab disapa mbak Wid. Mbak Wid adalah Ketua Umum Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis serta Bloger, Penulis, dan Influencer. Bekerja sebagai ASN, Mbak Wid adalah lulusan Magister Teknik Lingkungan ITS.

Pada kesempatan malam itu Mbak Wid mengajak para peserta untuk bersama-sama sharing mengenai bagaimana supaya kita dapat (bersedia) lebih membuka diri untuk bisa memenuhi sebuah panggilan dan mengambil kemungkinan-kemungkinan baru yang mungkin berbeda dari sebelumnya. Mba Wid mencontohkan pengalamannya sebagai Lifestyle Bloger yang menulis blog sudah sejak tahun 2008 dan selalu adalah tulisan non fiksi dalam banyak tema, yang kemudian berani mengambil jalur yang berbeda yaitu menulis cerpen fiksi yang menjadi salah satu bagian cerita dari Buku Beri Aku Cerita yang Tak Biasa.

Mbak Wid menjabarkan bagaimana pada akhirnya beliau membuka diri dan menulis cerpen dengan latar belakang budaya, yang juga menjadi cerpen (karya fiksi) pertama dari IIDN. Mba Wid merasakan adanya panggilan dari dalam dirinya untuk turut menulis cerpen dalam tema budaya, dimana menurut beliau budaya merupakan tema yang sangat menarik untuk diolah menjadi tulisan yang akan dapat membawa serta menyampaikan pesan yang ada pada suatu budaya ataupun tradisi.

“Beri Aku Cerita Yang Tak Biasa ini adalah cara kami mensyukuri, menjaga, dan juga turut merayakan warisan budaya luhur nuswantara, jadi adalah sebuah tugas sekaligus kegembiraan bagi kami untuk berupaya menuliskan buku ini.”_Mba Wid

Lalu apakah sulit ketika biasanya menulis fiksi kemudian beralih ke non fiksi? Menurut Mba Wid tentu sulit! Menurut mitosnya penulis fiksi itu harus pandai berkhayal, berbakat dan tulisan fiksi itu mudah dibuat namun kenyataannya menulis fiksi itu perlu riset yang kuat dan tidak cukup hanya dengan khayalan.

Nah, Mba Wid juga membagikan beberapa tips menulis fiksi bagi pemula, apa sajakah? Lanjut simak yuk.
1. Banyak membaca karya fiksi dari berbagai penulis yang baik
2. Melepaskan ekspektasi dan ketakutan, karena karya yang selesai itu jauh lebih baik daripada karya yang sempurna.
3. Gunakan setting yang mudah dibayangkan
4. Gunakan bantuan video, foto, rekaman suara dst
5. Memohon bantuan kepada Tuhan YME

antologi budaya

 

Kisi-Kisi Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa Oleh Ibu Kirana Kejora

Ibu kirana Kejora atau akrab disapa Buk’e Kirana adalah seorang Tenaga Ahli Sosial Ekonomi Perikanan di sebuah kantor konsultan di Jakarta, beliau merupakan lulusan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya. Diantara kesibukannya Buk’e Kirana juga adalah seorang Writerpreneur, Produser Film serta pendiri Elang Nuswantara. Terdapat 172 buku fiksi maupun non fiksi yang telah beliau tulis, beberapa novel karyanya pun merupakan best seller dan diangkat menjadi film, salah satunya adalah Ayah Menyayangi Tanpa Akhir.

Membuka materinya Buk’e Kirana langsung memberikan pertanyaan yang begitu menggugah nurani, “ Siapa lagi, sopo maneh (yang harus mencintai budaya nuswantara) kalau bukan kita?”

Antologi “Beri Aku Cerita Yang tak Biasa” adalah buku berisikan 28 cerita pendek bertema budaya yang ditulis oleh 28 penulis. Menurut Buk’e Kirana dengan memilih tema budaya untuk antologi ini berarti telah turut melestarikan budaya yang merupakan tanggung jawab kita bersama.

Di antologi beri aku cerita yang tak biasa, cerpen yang ditulis oleh Buk’e Kirana berjudul Totopong Hanjuang Kakek. Cerpen ini menceritakan bahwasannya semua yang kita pakai dan melekat pada diri kita (yang merupakan warisan leluhur) pasti memiliki filosofi. Seperti contohnya adalah Totopong yang merupakan ikat kepala tradisional khas sunda yang biasa digunakan oleh pria di Jawa Barat. Totopong yang berbentuk persegi empat ini memiliki makna kretek ati dengan empat filosofi yang melekat yaitu niat, lisan, perilaku dan raga. Nah, dalam cerpen ini makna serta filosofi dari totopong disampaikan melalui tulisan yang menarik dan hidup.

Narasumber

 
Menurut Buk’e Kirana ketika kita membicarakan filmis maka kalimat pada tulisan yang kita buat harus bisa membuat pembaca seolah melihat gambar-gambar hidup yang berjalan. Nah supaya bisa tercipta filmis ini harus terdapat 4 unsur yaitu :

1. Unsur Possible (masuk akal), untuk memenuhi unsur possible ini maka penulis harus memiliki data yang didapat dari riset.
2. Unsur Suspent, merupakan unsur dimana tulisan mampu menggetarkan jiwa pembaca.
3. Unsur Surprise (kejutan).
4. Unsur drama keluarga, romance, spiritual dan satire.

Mengangkat Budaya Bangsa Melalui Cerpen

Memasuki sesi selanjutnya, diputarlah video persembahan monolog dari Elang Biru yang berisikan cuplikan kalimat-kalimat yang berasal dari buku Beri Aku Cerita yang Tak Biasa dan kemudian dilanjutkan dengan sharing bersama salah satu penulis yaitu Mbak Rahmi Aziz.

Sesi Foto Bersama

 
Mbak Rahmi Aziz mengangkat adat budaya Bugis Mappasikarawa dalam cerpen tulisannya. Mappasikarawa adalah salah satu tahapan dan merupakan puncak dari rangkaian pernikahan adat Bugis. Mappasikarawa ini adalah pertemuan pertama mempelai pria dan mempelai Wanita yang disimbolkan dengan menyentuh beberapa bagian tubuh yakni ubun-ubun dan dada dimana dimaksudkan bahwa suami harus mampu menggenggam hati istrinya untuk menjalani pernikahan yang diharapkan sekali seumur hidup serta pernikahan harus memegang prinsip kejujuran.

Menurut Mbak Rahmi, jalur Fiksi adalah cara yang mudah untuk menyampaikan pesan karena biasanya pembaca akan merasa cerpen adalah bacaan yang ringan dan tidak membebani pikiran sehingga menarik untuk dibaca.

Mbak Rahmi menuturkan bahwa budaya Indonesia begitu kaya sehingga jika tidak mengangkatnya menjadi tulisan maka lama-kelamaan akan tenggelam dan bergeser, begitu pula maknanya akan menjadi kabur.

Acara berlangsung sangat menyenangkan sehingga tidak terasa sudah sampailah di penghujung acara. Kemudian menjadi sesi terakhir di event keren ini adalah sesi tanya-jawab dan pembagian doorprize. Dua orang penanya dipilih dan diberikan doorprize.

Nah bagi Sobat Readers yang penasaran dengan serunya event “Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa” bisa langsung tonton disini ya!


Antologi “Beri Aku Cerita Yang tak Biasa” berisikan cerpen sarat akan makna luhur budaya bangsa Indonesia. Betapa bangganya para penulis yang memperoleh kesempatan bergabung didalamnya untuk turut menuliskan cerita yang mengangkat budaya dan tradisi bangsa kita. Ini tentu menjadi bentuk sumbangsih nyata akan tanggung jawab menjaga warisan para leluhur.

Mengikuti event ini memberi aku insight yang luar biasa. Aku yang masih penulis pemula ini jadi belajar bahwa untuk bisa menghasilkan sebuah karya maka diperlukan keberanian untuk memulai dan mencoba. Menerima karya diri yang memang belum sempurna dan memafkannya namun tetap berusaha belajar agar menjadi lebih baik.

Terimakasih IIDN dan Elang Nuswantara atas kesempatan mengikuti dan belajar melalui event “Menerbangkan Adikarya Nuswantara dalam Bingkai Cerita yang Tak Biasa” ini. Aku jadi lebih bersemangat untuk belajar menulis rasanya, bagaimana dengan Sobat Readers?

Related Posts

Posting Komentar